Puasa Ramadhan di Tiga Propinsi

Normal
0

false
false
false

MicrosoftInternetExplorer4

st1\:*{behavior:url(#ieooui) }

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

TIGA TAHUN, PUASA RAMADHAN DI TIGA PROPINSI

(SULAWESI TENGAH, JAKARTA DAN JAWA TIMUR)

           

Alhamdulillah, akhirnya Ramadhan
tahun ini saya rayakan di Surabaya.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang harus saya rayakan di Sulawesi
Tengah pada tahun 2006 dan di Jakarta
pada tahun 2007. Pekerjaan sebagai Site
Engineer
di sebuah kontraktor telekomunikasi memberikan konsekuensi harus
selalu berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain yang beda
propinsi.

Ada
berbagai ragam budaya dan cara dalam menyambut dan melaksanakan ibadah puasa di
bulan Ramadhan. Hal itulah yang saya temukan sepanjang perjalanan saya saat menyinggahi
beberapa kota/propinsi di Indonesia.

Bulan Ramadhan tahun 2006 lalu, saya menjalankan ibadah puasa di propinsi
Sulawesi Tengah. Saat menjalankan puasa di Sulawesi Tengah sebenarnya saya
sempat singgah dan menginap di beberapa kota
yaitu Palu, Palasa, Tinombo, Ampibabo, Parigi, Poso dan Tentena. Tapi yang
paling berkesan adalah di desa Tada Kecamatan Kasimbar Kabupaten Parigi Moutong,
ini karena hampir duapertiga waktu puasa saya jalani di desa ini. Perayaan
Lebaran Idul Fitri juga saya laksanakan di Tada bersama Bapak Ibu Kos
sekeluarga bersama satu orang teman seprofesi dengan saya.

            Di Tada, pelaksanaan puasa begitu
meriah dan cukup kondusif untuk menikmati bulan yang suci. Masjid-masjid ramai
oleh jamaah, terutama saat menjelang waktu berbuka puasa. Masyarakat di Tada mayoritas
adalah pemeluk Islam dari suku Kahili, sisanya adalah suku Bugis dan Jawa.
Mayoritas memakai bahasa Kahili, meskipun kadang juga memakai bahasa Indonesia
yang khas dengan dialek daerahnya. Selain kendala bahasa yang belum begitu saya
pahami, ada yang khas di sini.

            Menjelang buka puasa, kebanyakan
orang yang datang ke masjid sudah membawa makanan atau minuman yang telah
disiapkan oleh ibu-ibu di rumah. Ada
yang menatanya di nampan, bakul, piring atau juga teko dan botol. Di dalam
masjid, makanan di susun memanjang dan kadang membentuk lingkaran. Makanan yang
mereka bawa itu bukan untuk mereka sendiri, tapi disajikan bagi siapa saja yang
menyukai dan mau memakannya. Kita bisa makan atau minum apa yang kita sukai
yang dibawa orang lain, jika orang lain suka dengan makanan yang kita bawa,
maka mereka juga bebas mengambilnya.

Berbagai jenis makanan khas sering muncul di sana, seperti es pisang ijo, sayur daun
kelor, dan berbagai jenis ikan kadang tersaji siap makan yang tentunya dibumbui
dan disajikan dengan cara khas masyarakat setempat. Masyarakat Kahili
menganggap ikan adalah makanan wajib yang harus ada sebagai pendamping nasi.
Pernah suatu kali Ibu Kos melarang saya makan dulu hanya gara-gara tidak ada
ikan, padahal di depan saya sudah ada sayur, sambel dan tempe goreng yang saya anggap sudah cukup.

Hal lain, jika di pulau Jawa kita sering mengikuti jadwal imsak atau
magrib stasiun radio atau televisi sehingga lebih mudah dan praktis, tapi di
Tada hal itu jarang saya temui. Di sini televisi jarang menyala karena sering
ada pemadaman listrik bergilir dan harus memakai antena parabola, sehingga
membaca Al Quran menjadi pilihan yang mengasyikan. Hanya beberapa orang yang
memiliki televisi. Sedangkan sinyal siaran radio sangat sulit saya temukan.
Jadi tanda berbuka atau akhir sahur mengikuti adzan dari masjid yang waktunya
telah ditetapkan mengikuti lembaga keagamaan setempat.

            Pelaksanaan ibadah puasa tahun 2007
saya jalani di Jakarta.
Hal yang benar-benar berbeda jauh saat menjalani puasa di Tada. Kemacetan
Jakarta yang luar biasa rasanya menjadi salah satu kendala menikmati
kekhusyukan ibadah. Rutinitas pekerjaan kantor membuat kebanyakan orang di sini
sering terjebak dalam kemacetan pada saat berangkat ke kantor atau pun saat
pulang ke rumah. Kemacetan di bulan puasa kala itu semakin parah tatkala hujan
atau gerimis mengguyur ibu kota.

Perjalanan Depok – Jakarta
yang kurang lebih hanya berjarak 20 kilometeran membutuhkan waktu tempuh antara
satu sampai dua jam. Padahal idealnya jarak sejauh itu hanya butuh waktu
duapuluh menit, sehingga lost time perjalanan
di Jakarta
sangatlah tinggi.

Jam-jam buka puasa adalah jam-jam padat di jalanan, kemacetan yang luar
biasa. Tak heran jika kemudian saya mengikuti saran dari beberapa teman, yaitu
makan buka puasa dulu di kantor sembari shalat magrib baru kemudian pulang ke
rumah. Adapun shalat Isya dan tarawih kadang harus dilaksanakan di masjid
sepanjang perjalanan atau dilaksanakan di rumah.

Kantor saya yang di Jakarta Pusat dan rumah di Depok menyediakan banyak
kantong-kantong kemacetan. Inilah yang khas saat saya menjalani puasa di Jakarta. Maka apabila Anda
hidup dan bekerja di Jakarta,
menikmati bulan puasa dengan hidangan buka puasa berupa kemacetan adalah hal yang
harus Anda biasakan.

 

Ramadhan di Surabaya

            Surabaya
itu panas, tapi setidaknya saat ini saya lebih menikmati tinggal di Surabaya daripada di Jakarta.
Begitu pun ketika menjalankan puasa di bulan Ramadhan 1429 H tahun ini. Ciri
khas Jawa masih saya temukan di sini, sebagaimana di Jawa Tengah. Saat
menjelang bulan Ramadhan tiba, saya masih melihat ada beberapa Kabupaten di
Jawa Timur saya masih menemukan acara/ritual Megengan dalam menyambut bulan puasa.

Surabaya tak semacet Jakarta,
sehingga puasa jadi lebih khusyuk dibandingkan di Jakarta. Mungkin hanya jalan Ahmad Yani saja
yang saya merupakan kemacetan terparah di Surabaya,
tapi itu tak akan sebanding dengan Jakarta.
Kita berharap saja kemacetan di Surabaya
di masa yang akan datang tidak bertambah.

Sebagai pendatang baru di Surabaya, saya
menganggap Surabaya lebih kondusif untuk bisa
menikmati ibadah bulan Ramadhan dibandingkan Jakarta. Nuansa tradisional Jawa masih bisa
saya temukan di sini.

            Dari beberapa kota yang saya singgahi saat menjalani ibadah
puasa di bulan Ramadhan akhirnya memang tidak dapat dipungkiri. Meskipun
sebenarnya kembali ke pribadi masing-masing tapi saya menganggap lingkungan
nyaman mendukung yang aktivitas beribadah dan lalu lintas yang lancar minim
kemacetan akan membuat ibadah puasa menjadi lebih khusyuk. Dibutuhkan niat yang
tulus, hati yang ikhlas dan tekad yang kuat untuk menjalani dan menikmati
kekhusyukan ibadah puasa di lingkungan yang tak kondusif untuk beribadah.

 

 

                       

 

           

           

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s